Senin, 04 September 2023

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan : 2.3.A. Pembinaan Untuk Supervisi Akademik

 Jurnal Refleksi Dwi Mingguan :

2.3.A. Pembinaan Untuk Supervisi Akademik

 
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabaratuh

Saya Ratna Dewi CGP Angkatan 8 dari SD Negeri 023 Loa Janan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Saya akan menceritakan tentang hasil refleksi saya mengenai modul 2.3 "Coaching untuk Supervisi Akademik" yang sudah saya pelajari. Saya merefleksikan modul ini dengan menggunakan modul refleksi 4F/4P. Kegiatan refleksi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman dan penerpan saya dari modul 2.3 ini. Berikut hasil refleksi saya yang tertuang pada model refleksi 4F/4P.

1. Facts/Peristiwa

Kegiatan Modul 2.3 diawali dengan berselancar di LMS yaitu dimulai dari diri. Pembelajaran ini dimulai pada hari Hari ini Selasa, 29 Agustus 2023 Kelas B sesi 2 Pukul 15.00 - 16.30 WITA. Alur mulai dari diri diawali dengan mengingatkan untuk lancarnya kegiatan yang mengalami kendala Sinyal. Mohon dapat mencari posisi yg kuat sinyal dengan harapan tidak ada kendala. Kemudian menjawab pertanyaan reflektif mengenai kegiatan observasi atau supervisi yang pernah dilaksanakan. Kemudian, saya menjawab dua pertanyaan mengenai harapan saya tentang modul 2.3 ini. Tahapan selanjutnya yaitu kegiatan eksplorasi konsep. Tahapan eksplorasi konsep ini, merupakan tahapan dimana saya mengeksplor sendiri materi-materi mengenai coaching. Ada empat bagian pada eksplorasi konsep ini, dimana disetiap bagiannya terdapat beberapa kotak serta beberapa video yang saya pelajari yaitu :

Konsep Coaching secara Umum dan Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching.

Kompetensi Inti Coaching dan TIRTA sebagai Alur Percakapan Coaching Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching.

Pada bagian terakhir eksplorasi konsep, saya berdiskusi bersama rekan CGP lainnya untuk memberikan pernyataan mengenai keterkaitan keterampilan coaching dengan supervisi akademik. Pada hari Jumat, 1 September 2023, kegiatan ruang kolaborasi latihan sesi 1. Pada ruang kolaborasi yang pertama bersama fasilitator Ibu Ratna Kristanti Iswari, saya mendapatkan pemahaman mengenai coaching ini, setelah itu saya dibagi kelompok dan melakukan latihan coaching bersama kelompok, selanjutnya saya bersama rekan CGP saya melakukan simulasi coaching secara bergantian melalui Gmeet. Tahapan selanjutnya adalah ruang kolaborasi praktek sesi 2 Pada hari yang sama Jumat, 1 September 2023, saya Bersama rekan CGP yang sudah ditentukan oleh fasilitator melakukan praktek Coaching dimana hasil praktek coaching ini akan di unggah sebagai hasil dari tugas ruang kolaborasi praktek sesi 2. Setelah kegiatan ruang kolaborasi, saya memasuki tahapan demonstrasi kontekstual. Pada tahapan ini, saya bersama 3 rekan CGP lainnya melakukan simulasi coaching secara tatap muka langsung. 

Pada kegiatan ini, saya bersama rekan saya bergantian peran menjadi coach, coachee, dan observer. Kegiatan simulasi ini dilaksanakan melalui tatap muka langsung dan direkam untuk kemudian rekamannya diunggah ke LMS sebagai tugas demonstrasi konstektual. Kegiatan selanjutnya yaitu elaborasi pemahaman bersama instruktur Ibu Ratna Kristanti Iswari. Pada kegiatan ini saya mendapatkan banyak pengetahuan, pemahaman mengenai  coaching.  Selanjutnya Ibu Ratna Kristanti menjelaskan Tugas Supervisior ada 3 tahap yaitu  : Tahap 1  melakukan percakapan Pra Supervisi  terhadap Coach, Tahap 2. (Mensupervisi) Mengamati Coach pada saat Mengcoaching Coachee dengan alur TIRTA. Dan Tahap 3 Melakukan percakapan Pasca Supervisi atau pengamatan. Selama kegiatan ini kegiatan Rekaman nya diunggah di YouTube. Link YouTube di unggah di Tugas Demonstrasi Kontekstual.

Penjelasan lebih dalam ada di LMS Demonstrasi Kontekstual modul 2.3 dan Rubrik Penilaian. Selanjutnya Ibu Ratna Kristanti meminta kita untuk mengatur waktu dengan Rekan Kelompoknya untuk melakukan Rekaman .  

Selanjutnya tahap koneksi antar materi. Pada kegiatan ini saya membuat koneksi materi mengenai modul yang dipelajari dengan pengalaman serta materi lainnya. Tahapan terakhir adalah aksi nyata. Kegiatan aksi nyata rencananya saya akan melaksanakan kegiatan coaching bersama salah satu rekan guru sesama CGP yaitu bapak M. Riski.

 2. Feelings/Perasaan

Perasaan saya ketika mempelajari Modul 2.3 ini saya merasa senang, optimis, tertantang dan termotivasi untuk melakukan coaching ini untuk perencanaan, untuk mencari solusi dalam berbagai permasalahan yang saya hadapi mauapun yang dihadapai rekan sejawat di sekolah, untuk berefleksi, dan untuk kalibrasi. Saya merasa senang karena mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang baru mengenai coaching. Saya juga merasa senang karena bisa melakukan simulasi coaching bersama rekan CGP lainnya. Saya merasa optimis karena saya yakin bisa mengaplikasikan pengetahuan saya mengenai coaching ini dalam peran saya sebagai pemimpin pembelajaran. Saya merasa tertantang dalam mempelajari materi coacing serta dalam mengaplikasikan coaching ini.

3. Findings/Pembelajaran

Hal yang bermanfaat yang saya dapatkan pada modul ini adalah mengenai supervisi akademik yang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan coaching. Pada pelaksanaan coaching ini harus didasarkan prinsip dan kompetensi coaching. Coaching juga bisa dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran kepada murid untuk menggali potensi yang dimiliki oleh murid.

Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation mendefinisikan coaching sebagai"bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif." Berbagai tugas dalam Sub Pembelajaran memberikan pengalaman yang berharga bagi saya dalam memahami coaching.

Paradigma berpikir coaching terdiri dari fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan, bersikap terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat, mampu melihat peluang baru dan masa depan. Prinsip coaching yaitu "kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi". Kompetensi Inti Coaching meliputi kehadiran penuh/Presence, mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot. Percakapan Berbasis Coaching dengan Alur TIRTA : Percakapan untuk perencanaan, Percakapan untuk pemecahan masalah, Percakapan untuk berefleksi, Percakapan untuk kalibrasi.

4. Future/Penerapan

Setelah mempelajari modu1 2.3. saya bertekad untuk mempraktikkan tiga kompetensi inti coaching, presence, mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching. Membuat rencana, melakukan refleksi, memecahkan masalah, dan melakukan kalibrasi. Memberikan umpan balik dengan paradigma berpikir dan prinsip coaching. Mempraktikkan rangkaian supervisi akademik yang berdasarkan paradigma berpikir coaching.

Secara keseluruhan rangkaian kegiatan pembelajaran modul 2.3 tentang Coaching Untuk Supervisi Akademik ini, membuat saya bersemangat untuk terus berpacu melakukan perubahan ke arah perbaikan dan peningkatan kompetensi diri. Untuk itu saya telah merancang tindakan aksi nyata penerapan praktik Coaching yang didasari oleh keinginan untuk melakukan praktik baik di lingkungan sekolah. Harapan saya dengan penerapan praktik Coaching di lingkungan sekolah bersama rekan sejawat dan warga sekolah lainnya, dapat mewujudkan pribadi yang mandiri dan dapat membantu murid untuk menuntun segala kekuatan kodratnya yang ada pada dirinya. Dengan praktik Coaching juga membantu murid untuk mampu hidup sebagai individu dan bagian masyarakat yang mampu menggali dan memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, serta menuntun murid untuk memperoleh kemerdekaan belajar di sekolah.

 Link : Tugas kolaborasi modul 2.3 PRAKTIK COACHING MODEL TIRTA

https://youtu.be/VvQP-bir1Gk?si=MGQxFWyj4V0GydeB

 

Link 2.3 Supervisi Akademik  Tugas  Demontrasi Kontekstual   :

https://youtu.be/U7PMDeDLlvM?si=hM6HN-3fMbwnt6hV

  Demikianlah Jurnal Dwi Mingguan saya terkait modul 2.3 tentang Coaching untuk Supervise Akademik.

Salam Guru Penggerak !!!

Tergerak, Bergerak dan Menggerakkan

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabaratuh

 

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.1 : tentang Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Saya Ratna Dewi, Calon Guru Penggerak Angkatan 8 dari SD Negeri 023 Loa Janan Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Pada kesempatan ini saya akan menulis mengenai Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.1 tentang Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi. Jurnal ini dibuat untuk melakukan refleksi diri setelah mengikuti sebuah kegiatan pendidikan. Di postingan ini saya menulis jurnal Refleksi Dwi Mingguan sesuai dengan pengalaman saya dalam proses pendidikan guru penggerak Angkatan ke-8. Jurnal refleksi ini saya tulis setelah saya mengikuti dan mempelajari modul 2.1. Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Murid. Dalam menulis jurnal, saya menggunakan model 4F, yakni Fact (peristiwa), Feeling (perasaan), Findings (pembelajaran), Future (penerapan). Untuk memudahkan memahaminya, 4F tersebut saya terjemahkan dalam bahasa pertanyaan, yakni 1) apa yang saya alami; 2) apa yang saya rasakan; 3) apa yang saya dapatkan; dan 4) apa yang akan saya lakukan.Berikut jurnal refleksi dwimingguan modul 2.1. Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Murid.

A.     Apa yang saya alami.

Saya memulai membuka modul 2.1. pada tangal 1 Agustus 2023 di LMS dengan mengerjakan pretest. Saya mengerjakan 18 soal dalam pretest tersebut. Setelah itu, saya mempelajari modul 2.1. dengan alur MERDEKA, yakni:

1.   Mulai dari Diri

Saya mulai mempelajari modul 2.1. dengan membuka tautan mulai dari diri. Di sini saya mendapat tugas untuk melakukan refleksi diri. Ada empat pertanyaan yang harus saya jawab. Hasil refleksi saya dokumentasikan di blog pribadi saya.

2.   Eksplorasi Konsep

Di bagian eksplorasi konsep, saya belajar di LMS tentang pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar semua murid. Saya mulai belajar tentang pembelajaran berdiferensiasi dan miskonsepsinya. Saya juga belajar mengenai kesiapan belajar, minat murid, dan profil belajar murid. Di bagian ini saya juga mendapat tugas untuk membuat diagram Frayer mengenai pembelajaran diferensiasi.  

Setelah itu saya, melakukan diskusi asinkron. Ada beberapa topik dalam diskusi asinkron dengan kelompok saya yang beranggotakan 4 orang yaitu  Siti Khoiriyah (SD), Pramudya Wella Sakarosa (SD), Ratna Dewi (SD) dan Muhammad Riski (SD). Kelas Elaborasi pemahaman 2.1 Sesi 2 Wita mulai 15.30 – 17.00 melalui LMS dibimbing oleh Irham.  Pada hari Selasa tanggal1 Agustus 2023.  Pada sesi ini kami mengerjakan  :

a.   Menganalisis video penjelasan mengenai strategi pembelajaran berdiferensiasi, mulai dari diferensiasi konten, proses, dan produk

b.   Menganalisis artikel tentang penilaian dalam pembelajaran berdiferensiasi

c.   Ruang Kolaborasi

Ruang kolaborasi dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah diskusi dengan anggota kelompok dan yang kedua adalah presentasi hasil diskusi tersebut. Semua itu dilakukan secara daring atau melalui Gmeet.  

d.   Demonstrasi Kontekstual

e.   Elaborasi Pemahaman Di bagian ini, saya ditugasi untuk memberikan pertanyaan yang dapat menguatkan pemahaman saya tentang isi modul 2.1.

Beberapa pertanyaan yang akan menguatkan pemahaman saya akan materi konsep di Modul 2.1. ini adalah:

Salah satu pemetaan kebutuhan belajar siswa adalah dengan memetakan berdasarkan kemampuan awal. Siswa yang berkemampuan awal baik, mendapat tugas yang lebih kompleks, sedangkan siswa yang berkemampuan awal rendah diberikan tugas yang lebih sederhana. Namun, biasanya siswa yang bekemampuan awal rendah walaupun diberikan tugas yang sederhana, mereka mengerjakan dengan sembarangan atau bahkan tidak mengerjakannya. Bagaimana cara mengatasi hal tersebut?

f.    Koneksi Antar-Materi

Di bagian koneksi antarmateri Modul 2.1 ini, saya membuat penjelasan mengenai:

1). Simpulan tentang pembelajaran diferensiasi

2). Alasan pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal

3). Kaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak

Penjelasan mengenai materi di atas saya buat dalam video Youtube  

g.   Aksi Nyata

Aksi nyata berisi pemahaman saya tentang modul 2.1 yang diterapkan secara nyata. Di aksi nyata ini saya melakukan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran diferensiasi yang saya lakukan mengambil materi Energi Yang Tersimpan. Mata pelajaran IPAS IV (Empat)/I (Satu) SD Negeri 023 Loa Janan

B.      Apa yang Saya Rasakan?

Selama saya mempelajari Modul 2.1., saya merasakan perasaan yang semangat, bangga, senang, dan tentunya tertantang. Saya semangat karena di modul 2.1. ini saya bisa mempelajari materi tentang pembelajaran berdiferensiasi yang cukup menarik. Saya bisa lebih paham tentang kebutuhan belajar siswa yang bisa dijadikan landasan dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. Saya bangga karena saya memiliki kesempatan untuk mempelajari materi yang sangat luar biasa dan sangat bermanfaat untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak kepada siswa. Saya senang karena bisa berkolaborasi dengan teman CGP lain untuk menganalisis rancangan pembelajaran berdiferensiasi. Saya juga sangat tertantang dengan tugas-tugas yang diberikan di sela kesibukan saya sebagai guru di sekolah.

C.      Apa yang Saya Dapatkan

Di Modul 2.1. saya mendapatkan materi tentang pembelajaran berdiferensiasi. Di dalamnya saya memahami cara mengetahui kebutuhan belajar siswa, yakni dengan cara mengetahui kesiapan belajar, minat murid, dan profil belajar siswa.

D.     Apa yang Akan Saya Lakukan?

Setelah memahami materi dalam modul 2.1., saya akan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di sekolah. Tentunya dengan melakukan perencanaan yang matang, mulai dari pembuatan RPP/modul ajar, pembuatan/persiapan media, dan lain-lain.

 

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional (KSE)

 '

Jurnal Refleksi  Dwi Mingguan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional (KSE)

Assalamualaikum wr. Wb

Salam guru penggerak!

Bergerak, tergerak dan menggerakan

Perkenalkan saya Ratna Dewi, S.Pd., M.Pd. Calon Guru Penggerak Angkatan 8-Kukar, Guru SD Negeri 023 Loa Janan Kec. Loa Janan Kab. Kukar. Kaltim

Pada modul 2.2 adalah   2.2.A. Pembelajaran Sosial dan Emosional melalui Alur M_E_R_D_E_K_A (Mulai dari diri, Elaborasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata) serta sudah setengah dari keseluruhan modul dalam program guru penggerak ini.

Pada modul ini kami mempelajari tentang terwujunya well-being (kesejahteraan psikologis). Implementasi pembelajaran sosial emosional melalui  4 indikator yaitu: pengajaran eksplisit, integrasi dalam  praktek mengajar guru dan serta kurikulum akademik,  penciptaan  iklim kelas dan sekolah, dan penguatan kompetensi sosial dan emosional rekan sejawat di sekolah kepada rekan sejawat atau komunitas, dan merefleksikannya. Kami juga mempelajari dan praktik implementasi penguatan KSE (kompetensi sosial emosional) bagi keseluruhan warga sekolah dengan menghadirkan PSE (pembelajaran sosial emosional), baik melalui pembelajaran eksplisit, integrasi ke dalam kurikulum, dan lain sebagainya. Selanjutnya, setelah melakukan praktik baik tersebut lalu kami mendiseminasikannya kepada rekan sejawat/guru-guru yang ada di satuan pendidikan / sekolah kami.

FACT (Peristiwa)

Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional ini saya memulai dari diri dengan menjawab pertanyaan di LMS, dimana ini merupakan refleksi individu selama saya menjadi seorang pendidik. Banyak pengalaman yang saya dapatkan baik berupa sebuah kesulitan, kekecewaan, kesedihan, kesenangan, kebahagiaan, kebanggaan yang semuanya itu dapat membuat saya lebih bersemangat dan tertanang memahaminya secara keselurahn dengan lebih baik

Selanjutnya saya mengikuti kegiatan ekplorasi konsep, dalam kegiatan ini saya mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pembelajaran sosial emosional, saya mengerjakan tugas analisis lima kasus yang telah disediakan di LMS dan kami saling menuliskan komentar pada forum diskusi. Akhirnya setelah selesai ekplorasi konsep saya melanjutkan ikut kegiatan ruang kolaborasi yang dipandu oleh Fasilitator  Bapak Ding Njuk kegiatan ini ada dua sesi, sesi pertama reflesi materi eksplorasi konsep  yang sudah dipelajari sebelumnya. Selanjutnya pada sesi ini saya berkolaborasi dengan rekan CGP pada Kelas B Kelompok 1 khusus kelas SD yaitu Pak Risky, dan Ibu Siti Choriah, dan Ibu  Wella untuk mendiskusikan tugas yang harus kami bahas dan kerjakan. Kami   Pada sesi kedua ruang kolaborasi kami mempresentasikan hasil diskusi kelompok di Rukol sesi jam yang sudah ditentukan di LMS

Pada tugas demonstrasi kontekstual saya mengerjakan tugas membuat RPP berdiferensiasi dan terintegrasi Kompetensi Sosial Emosional. Teknik Pembelajaran Kompetensi Sosial dan emosional yang saya kembnagkan dalam RPP ada kesadaran diri, manajemen diri,  kesadaran Sosial,  Ketrampilan Berelasi, serta Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Setelah kegiatan tersebut selesai saya melanjutkan ikut kegiatan kelas elaborasi pemahaman  modul 2.2 bersama instruktur Ngakan Putu Suarjna,S.Pd, pada hari selasa,  15 Agustus 2023 sesi 1 jam 13.00-14.30 wita, masuk LMS,  kegiatan ini saya mendapat penguatan kami tetang materi Kompetensi Sosial Emosional. Kegiatan berikutnya yang saya kerjakan adalah koneksi antar materi dimana saya berusha menghubungkan semua materi pembelajaran yang sudah dipelajari dihubungkan dengan pembelajaran sosial emosional. Diakhir modul ini saya harus menampilkan RPP berdiferensiasi dan terintegrasi dipembelajaran tatap muka dikelas yang akan didampingi oleh Pengajar Praktik.

FEELINGS (Perasaan)

Perasaan saya setelah melaksanakan kegiatan ini adalah saya merasa senang, gembira, semakin bersemangat aakn ilmu yang saya dapat berbagi pengetahuan yang saya dapatkan mengali dan kolbaorasi untuk memantap ilmu proses pengetahuan yang ingin saya maksimal dalam modul ini. Pada saat sebelum saya mempelajari materi ini saya apabila telah lelah atau banyak beban pikiran sehingga sangat menggagu aktfitas saya terutama pada lingkungan kerja akan mudah merasa emosi dan tersulut emosinya. Dengan mempelajari modul 2.2 ini saya memahami bahwa untuk diri saya juga perlu dilatih agar siap sosial emosional dalam kehidupan berikutnya, kemudian saya berbagi dengan rekan sejawat bagimana  teknik Mainfulnees dengan tekhnik STOP  dalam kegiatan pembelajaran di terapkan selain KSE yang lainnya

FINDINGS (Pembelajaran)

Adapun yang saya dapakan dari pembelajaran ini adalah bahwa pembelajaran sosial emosional ini sangat penting dilakukan dalam pembelajaran di dalam kelas, dilingkungan sekolah,  ada lima kompetensi dalam pembelajaran sosial emosional yaitu kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi dan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan, pembelajaran sosial emosional ini sangat baik dan akan membentuk karakter yang diinginkan dari sekolah.

FUTURE (Perubahan)

Setelah mempelajari modul 2.2 ini hal yang akan saya lakukan adalah  Menerapkan pembelajaran sosial dan emosional baik secara eksplisit dan terintegrasi dalam pembelajaran di dalam maupun di luar kelas, mensosialisasikan KSE ini kepada seluruh warga sekolah agar pembelajaran sosial emosional dalam dilaksanakan dengan optimal, saya berharap dapat menjadi coach bagi teman sejawat, dan mitra dalam kegiatan ini di sekolah.

 

Salam Guru Penggerak

Jaya Pendidikan Indonesia, Bersama Kita Bisa

 
















































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.2 : Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak

Saya Ratna Dewi, Calon Guru Penggerak Angkatan 8 dari SD Negeri 023 Loa Janan Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Pada kesempatan ini saya akan menulis mengenai Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak. Jurnal ini dibuat untuk melakukan refleksi diri setelah mengikuti sebuah kegiatan pendidikan, Jurnal ini ditulis secara rutin setiap dua mingguan. Jurnal dwi mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh setiap calon guru penggerak.

Saya akan menulis mengenai refleksi saya mengenai kegiatan-kegiatan pendidikan Guru Penggerak yang sudah saya lalui, khususnya pada modul 1.2 tentang Nilai dan peran Guru Penggerak. Kegiatan pembelajaran modul 1.2 telah selesai saya ikuti, ada banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang saya peroleh selama kegiatan pendidikan. Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F yaitu : Fact (peristiwa), Feeling (perasaan), Findings (pembelajaran), Future (penerapan).

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 1.2 ini sebagai refleksi diri setelah selama dua minggu kedua mengikuti kegiatan Pendidikan CGP yang kedepannnya akan ditulis secara rutin selama dua mingguan sebagai tugas yang harus dikerjakan oleh seorang calon guru penggerak. Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F: Fact; Feeling; Findings; dan Future, yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P yakni: Peristiwa; Perasaan; Pembelajaran; dan Penerapan.

1.  Facts (Peristiwa)

Setelah saya mempelajari modul 1.1 yang berkaitan tentang Pendidikan Menurut Ki Hajar Dewantara, maka kami melanjutkan ke materi 1.2 mengenai Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak. Pada modul ini saya mulai dengan mempelajari materi kemudian kami diminta untuk membuat trapesium usia. Trapesium usia ini merupakan gambaran diri saya dimulai dari mengawali Pendidikan yang saya tempuh di usia taman kanak-kanak sampai pada usia sekarang bekerja sebagai guru. Pada saat usia sekolah kami diminta mengingat satu dari beberapa kejadian positif dan negatif yang pernah saya alami. Pada saat proses membuat trapezium usia, saya dapat mengingat betul walau kejadiannya sudah sangat lama terjadi baik itu mengenai hal positf dan negative yang pernah saya alami yang berkaitan dengan guru saya dulu.

Disini saya menyadari bahwa peran guru sangat berpengaruh kepada saya. Saya harus bisa menjadi seorang guru yang nantinya memberikan pengaruh positif kepada peserta didik saya, dan berusaha sebaik mungkin tidak memberikan pengaruh negative kepada anak sehingga momen ini menjadikan sebagai jekadian negative yang akan dikenang selamanya oleh peseta didik saya. Kemudian pada materi selanjutnya, saya diminta untuk mengidentifikasi nila-nilai guru penggerak yang sudah ada pada diri saya. Kemudian bagaimana nilai-nilai guru penggerak tersebut bisa dilakukan dan dioptimalkan dalam pembelajaran (pemimpin belajar).

Materi di dalam modul 1.2 ini terbagi atas 3 materi besar yaitu bagian A tentang konsep manusia tergerak, lalu bagian B tentang konsep manusia bergerak, dan bagian C tentang konsep menggerakkan manusia. Selanjutnya saya dan teman-teman diarahkan pada ruang kolaborasi oleh fasilitator kami untuk berdiskusi Bersama, yang nantinya kami dibgai-bagi kedalam beberapa kelompok. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua kali pertemuan yakni pada tanggal 13 Septembr 2022 untuk diskusi Bersama kelompok kecil kemudian dilanjutkan pada tanggal 14 September 2022 untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok kemudian di beri pertanyaan dan tanggapan oleh kelompok lainnya. Saya tergabung dalam kelompok 6 bersama ibu Roni dan Bapak Catur.

Di dalam kelompok ini, kami diminta membuat karya yang berisi gambaran singkat yang berbasis kekuatan nilai lalu merancang satu kegiatan yang sesuai dengan satu peran GP yang kelompok pilih. Pada diskusi ini kelompok kami, memilih peran sebagai coach bagi guru lain untuk sharing materi kepada rekan guru lainnya mengenai penilaian berbasis literasi dan numerasi. Keesokan harinya pada tanggal 21 September 2022 kami kegiatan Elaborasi Pemahaman 1.2 secara virtual pukul 15.30 s.d 17.00 WIB Bersama In Bapak Reddison, M. Pd. Beliau memaparkan materi secara terperinci dan jelas, sehingga saya semakin memahami materi pada modul 1.2 berkaitan dengan Nilai dan Peran Guru Penggerak serta mendapat banyak pemahaman baru hasil dari diskusi dan intruktur melalui tanya jawab yang dilontarkan ataupun tanggapan oleh CGP lainnya dari beberapa daerah lain.

2.  Feeling (Perasaaan)

Pengalaman saya selama mempelajari modul 1.2 ini sangat beragam. Saya menjadi menegtahui bagaimana cara kerja otak manusia yang terdiri dari dua yakni thinking fast dan thinking slow. Selama ini saya meyakini bahwa berfikir cepat dan tanggap serta akurat merupakan hal yang baik. Sekarang saya lebih memahami bahwa sebaiknya sebagai seorang pendidik saya harus membiasakan diri untuk berfikir lambat (thingking slow) supaya saya lebih dapat memberikan keputusan tidak terburu-buru dan lebih bijaksana sehingga mampu menilai dan melihat dari berbagai sudut/aspek sebelum memutuskan sesuatu.

Hal lainnya yang saya dapatkan adalah saya menjadi mengetahui 5 kebutuhan dasar manusia, yakni kebutuhan kasih sayang dan rasa diterima, kekuasaan, kesenangan, kebebasan, dan bertahan hidup. Kemudian tahap perkembangan manusia secara psikososial menurut erik erikson, bahwa setiap anak memiliki cara pandang sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya. Diharapkan ketika kita sudah mengetahui psikososial di setiap tahap perkembangan manusia, kita menjadi tahu apa yang harus saya lakukan ketika berhadapan dengan peserta didik untuk menyesuaikan terhadap apa yang harus saya lakukukan sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Selanjutnya diagram identitas gunung es yang menjelaskan konsep penumbuhan karakter. Fenomena gunung es di lautan dapat menggambarkan apa yang terlihat di permukaan tidak dapat menggambarkan apa yang ada di dalam laut. Fenomena ini dapat digunakan untuk membuat perumpamaan karakter. Karakter yang terlihat hanya 12% sedangkan 88% tidak terlihat. Yang terakhir adalah materi mengenai 5 nilai dan peran dari guru penggerak yang harus saya miliki yakni sebagai pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudan kepemimpinan murid dan menggerakkan komunitas praktisi.

3.  Findings (Pembelajaran)

Pengalaman saya selama mempelajari modul 1.2 ini sangat beragam. Saya menjadi menegtahui bagaimana cara kerja otak manusia yang terdiri dari dua yakni thinking fast dan thinking slow. Selama ini saya meyakini bahwa berfikir cepat dan tanggap serta akurat merupakan hal yang baik. Sekarang saya lebih memahami bahwa sebaiknya sebagai seorang pendidik saya harus membiasakan diri untuk berfikir lambat (thingking slow) supaya saya lebih dapat memberikan keputusan tidak terburu-buru dan lebih bijaksana sehingga mampu menilai dan melihat dari berbagai sudut/aspek sebelum memutuskan sesuatu. Hal lainnya yang saya dapatkan adalah saya menjadi mengetahui 5 kebutuhan dasar manusia, yakni kebutuhan kasih sayang dan rasa diterima, kekuasaan, kesenangan, kebebasan, dan bertahan hidup.

Kemudian tahap perkembangan manusia secara psikososial menurut erik erikson, bahwa setiap anak memiliki cara pandang sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya. Diharapkan ketika kita sudah mengetahui psikososial di setiap tahap perkembangan manusia, kita menjadi tahu apa yang harus saya lakukan ketika berhadapan dengan peserta didik untuk menyesuaikan terhadap apa yang harus saya lakukukan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Selanjutnya diagram identitas gunung es yang menjelaskan konsep penumbuhan karakter. Fenomena gunung es di lautan dapat menggambarkan apa yang terlihat di permukaan tidak dapat menggambarkan apa yang ada di dalam laut. Fenomena ini dapat digunakan untuk membuat perumpamaan karakter. Karakter yang terlihat hanya 12% sedangkan 88% tidak terlihat. Yang terakhir adalah materi mengenai 5 nilai dan peran dari guru penggerak yang harus saya miliki yakni sebagai pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid dan menggerakkan komunitas praktisi.

4.  Future (penerapan)

Penerapan ke depan (Rencana) pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang, untuk membantu menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak. Saya akan memulai dari diri saya sendiri untuk memperbaiki cara mengajar, menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid dan menyenangkan, berpihak pada murid dan penuh dengan inovasi. Menerapkan pembelajaran didalam dan luar ruangan dan yang paling penting menciptakan kenyamanan murid dalam belajar. Saya mewujudkan mandiri belajar dari berbagai sumber dan media untuk meningkatkan kualitas diri saya semacam mengikuti webinar, pelatihan dan melanjutkan Pendidikan saya ke jenjang berikutnya. Mencoba berfikir reflektif dan matang dalam menentukan sikap dan tindakan dan keputusan saya.

Selasa, 22 Agustus 2023

2.3.a.3. Mulai Dari Diri - Modul 2.3

 2.3.a.3. Mulai Dari Diri - Modul 2.3  

Ratna Dewi CGP Angkatan 8 Kab. Kutai Kartanegara 

SD Negeri 023 Loa Janan

Durasi: 1 JP

Moda: Mandiri


Tujuan Pembelajaran Khusus: CGP mampu mengidentifikasi pengetahuan, pengalaman, dan  keterampilan dirinya terkait coaching di konteks pendidikan.

Selama menjadi guru, tentunya pembelajaran Anda pernah diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah Anda. Bagaimana perasaan Anda ketika diobservasi? 

Iya benar, selama menjadi guru pembelajaran yang saya lakukan di kelas pernah diobservasi dan disupervisi oleh kepala sekolah. Perasaan saya saat itu ketika mendapat informasi akan dilakukan observasi dan supervisi yaitu merasa sedikit khawatir namun tetap bersemangat. Kekhawatiran tersebut karena kondisi anak-anak ketika proses pembelajaran berlangsung. Sebab saya khawatir bahwa kondisi saat itu akan memicu anak-anak akan merasa kurang nyaman atau merasa terlalu diperhatikan oleh kepala sekolah, Sehingga akan membuat siswa merasa terbatasi ketika berdiskusi dengan guru di kelas dan menciptakan suasana yang menegangkan.

Selain itu rasa khawatir juga berkaitan dengan diri saya yang berprofesi sebagai guru. Meskipun pembelajaran di kelas sudah rutin dilaksanakan, namun suasananya ini akan diobservasi atau disupervisi, Saya merasa khawatir akan ada kekurangan, baik berkaitan dengan administrasi ataupun perangkat pembelajaran yang saya gunakan. Kendati demikian saya berusaha mempersiapkan semuanya sebelum tiba hari pelaksanaan observasi dan supervisi. Semua berusaha saya persiapkan dengan matang, Sesuai jadwal yang telah ditentukan saya membawa semua berkas administrasi perangkat pembelajaran, al-hamdulillah perangkat pembelajaran yang telah saya siapkan telah lengkap.

Dari kegiatan supervisi saya banyak masukan dari Kepala sekolah terutama pada bentuk apresiasi dengan menuliskan jawaban anak atas pertanyaan saya, agar ditulis pada papan tulis. Dari hasil supervisi ini sebagai refleksi untuk memperbaiki diri baik dari segi administrasi maupun kegiatan belajar mengajar di kelas. 

 

Menurut Anda, bagaimanakah proses supervisi akademik yang ideal yang dapat membantu diri Anda berkembang sebagai seorang pendidik ? 

Pertama, dilakukan pertemuan singkat antara guru dan kepala sekolah sebelum proses supervisi akademik dimulai. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa kedua belah pihak memiliki persepsi yang sama bahwa supervisi akademik dilakukan untuk saling berbagi pengalaman dan ilmu.

Kedua, pimpinan yang akan melakukan supervisi harus memberikan contoh dan cara bagaimana melakukan suatu kegiatan pembelajaran ataupun administrasi yang baik serta memberikan poin-poin penilaian yang akan dilakukan.

Ketiga proses supervisi harus dilakukan secara teratur dan terjadwal, sehingga seorang pendidik akan selalu mempersiapkan diri dengan baik dan perbaikan akan terus terjadi.

Keempat proses supervisi harus dilakukan dengan tujuan yang jelas.

Kelima proses supervisi harus mengutamakan umpan balik yang konstruktif dan positif. Pendidik harus diberi umpan balik yang jelas dan spesifik mengenai kekuatan dan kelemahan dalam pengajaran, serta diberikan saran dan rekomendasi yang dapat membantu meningkatkan kemampuan mengajar.

Keenam memberikan kesempatan kepada pendidik untuk berpartisipasi aktif dalam proses supervisi. Pendidik dapat mengajukan pertanyaan, memberikan masukan dan saran, serta berdiskusi mengenai upaya perbaikan dan pengembangan.

 

Menurut Anda jika Anda saat ini menjadi seorang kepala sekolah yang perlu melakukan supervisi, dimana posisi Anda sehubungan dengan gambaran ideal di atas dari skala 1 s.d 10 ? Situasi belum. ideal 1 dan situasi ideal 10 

Jika saya saat ini menjadi kepala sekolah yang melakukan supervisi, menurut saya kondisi guru di sekolah berada pada skala 8 dari 10 berdasarkan kriteria ideal yang saya miliki. Namun, saya memberikan skala 8 karena masih ada beberapa faktor yang mempengaruhi, seperti sebagian guru yang telah menerapkan pembelajaran inovatif dengan video atau game edukasi, tetapi beberapa guru masih merasa khawatir dengan supervisi akademik.

Oleh karena itu, perlu dilakukan pendekatan dan diskusi lebih dalam untuk memberi pemahaman bahwa supervisi bukanlah hal yang menakutkan.

Selain itu, masih ada beberapa guru yang belum melengkapi administrasi atau perangkat pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya perbaikan dan introspeksi dari berbagai pihak agar proses supervisi yang ideal dapat terwujud. 

 

Aspek apa saja yang Anda butuhkan untuk dapat mencapai situasi ideal itu?

Aspek yang saya butuhkan adalah kompetensi teknis dan pedagogik.

Kemampuan observasi yang baik.

Kemampuan memberikan umpan balik yang efektif,

Kemampuan analisis dan evaluasi proses pembelajaran yang berlangsung.

Kemampuan mendengarkan dan keterbukaan.

Kemampuan berkomunikasi yang efektif, emapti dan memperdayakan sebagai pemimpin pembelajaran

Kemampuan memotivasi dan memberikan dukungan dengan baik kepada guru.

Kemampuan ketrampilan coaching yang baik.

Kemapuan melakukan strategi perubahan melaluipenerapan  pendekatan pembinaan

Apa saja harapan yang anda lihat pada diri anda sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini? 

Harapan saya setelah mempelajari modul ini, saya mampu memahami seluruh materi dan dapat mengikuti serangkaian kegiatan dengan baik sehingga kompetensi saya semakin berkembang. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, saya juga ingin berlatih menerapkan kegiatan coaching dalam praktik baik di lingkungan sekolah, menjadikan diri saya mempunyai nilai dan peran sebagai pemimpin pembelajaran yang dapat mewujudkan visi sekolah selaras dengan profil pelajar Pancasila dengan menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas dimulai berkolaborasi dengan sesama guru dan warga sekolah, saling membantu memperbaiki kekurangan dan saling membagikan pemahaman dan pengalaman positif membuat perubahan menggerakkan komunitas sekolah melalui implemtasikan prinsip pembinaan

Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini? 

1.    Modul  coaching, berupa definisi, tujuan, serta langkah-langkah pelaksanaan coaching. Materi ini mencakup coaching terhadap murid maupun sesama rekan sejawat.

2.  Materi tentang perbedaan coaching, mentoring, dan konseling dalam bidang pendidikan karena ketiganya masih sering sulit dibedakan. Guru diharapkan memiliki memiliki salah satu ketrampilan, yaitu coaching, agar dapat  melejitkan kemampuan dan potensi yang dimiliki siswanya, materi ini akan sangat membantu guru dalam melaksanakan praktik coaching ke depannya anak didik menjadi terarah dan dapat menyelesaikan masalah sendiri dari potensi yang mereka miliki.

3.      Kegiatan praktik coaching dengan murid ataupun sesama rekan guru. Hal ini mengingat guru bukan hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga berperan sebagai teman yang dapat diajak berdiskusi dengan murid. Selain itu, guru juga berdiskusi dengan guru untuk bertukar pikiran mengenai pembelajaran atau isu-isu yang berkembang Dengan penerapan Prensip Pembinaan untuk membanguan komunikasi yang empati dan memperdayakan sebagai pemimpin pembelajaran dan kepala sekolah dalam membuat perubahan strategi yang mampu menggerkkan  komunitas sekolah dengan alur percakapan TIRTA  dan supervisi akademik dengan prinsip pembinaan dapat mengembangankan diri, guru, dan rekan sejawat dan  menjadi seorang pemimpin pembelajar dan kepala sekolah yang berkualitas dan mandir.

4.  Manfaat yang ingin saya dapatkan adalah pengetahuan mengenai coaching yang akan saya impementasikan dengan sebaik-baiknya. Materi coaching dapat menguatkan saya menjadi seorang pemimpin pembelajaran dan kepala sekolah.

5.    Dengan memahami sebagai guru pemimpin pembelajaran kita dapat melejitkan potensi siswa kita menjadi terarah dan siswa dapat menyelsaikan masalahnya sendiri dari potensi yang mereka miliki.

 

 Salam Guru Penggerak : Tergerak, Bergerak, dan Menggerakkan

 Bersama kita bisa cerdasakan bangsa , untuk Indonesia Maju



Senin, 24 Juli 2023

MODUL 1.4. – AKSI NYATA - BUDAYA POSITIF

                                              MODUL 1.4. – AKSI NYATA - BUDAYA POSITIF

Selasa, 20 Juni 2023

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.3 Pendidikan Calon Guru Penggerak

 Jurnal Refleksi Dwi Mingguan

Modul 1.3 Pendidikan Calon Guru Penggerak

Refleksi minggu ini saya akan menuliskan apa yang telah saya lakukan dan saya alami selama satu minggu, apa yang menarik buat saya kemudian rencana selanjutnya yang akan saya lakukan dalam minggu selanjutnya jurnal refleksi minggu ini saya menggunakan model I yaitu 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) atau 4P yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway.

Facts (Peristiwa)

Pada dwi mingguan ketiga, mulai tanggal 14 Juni 2023 - 17 Juni 2023 seluruh Calon Guru Penggerak Angkatan 8 mempelajari modul 1.3 dan mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan di LMS (Learning Management System) sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan yang akan dipandu oleh Pengajar Praktik, Fasilitator dan Instruktur. Seperti sebelumnya, kegiatan pelatihan ini mengikuti alur MERDEKA, yaitu Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi dan Aksi Nyata.

Pada modul mulai dari diri sendiri, saya berpikir mengenai murid saya menjadi pribadi seperti apa yang saya inginkan dimasa mendatang 5-10 tahun mendatang. Pada modul eksplorasi konsep, saya mempelajari bahwa pemimpin harus mampu untuk memimpin sekolah secara konstruktif dan berkelanjutan. Selanjutnya saya juga mempelajari tentang IA sebagai pendekatan manajemen perubahan dalam mewujudkan visi berdasarkan tahapan BAGJA. Pada modul diskusi kelompok saya melaksanakan persentasi bersama teman CGP dengan tema penusunan alur kerja melalui IA. Pada modul elaborasi bersama, belajar mendalami pembelajaran tentang karakter berdasarkan profil pelajar pancasila yang dapat dicapai melalui perubahan melalui IA berdasarkan tahapan BAGJA.

Feelings

Saya merasa sangat antusias ketika mempelajari modul ini karena sebelumnya tidak pernah terpikir oleh saya bahwa ketika kita ingin melakukan perubahan ternyata ada metode atau langkah-langkahnya. Ternyata bila kita ingin berubah, sekedar niat saja tidak cukup. Kita perlu merancang sebuah strategi perubahan agar perubahan yang kita lakukan lebih terarah dan lebih mudah mencapai tujuan. Saya juga setelah mengikuti elaborasi pemahaman menjadi lebih mengerti mengenai alur pembuatan VISI terutama Visi guru penggerak yang harus disusun bersarkan BAGJA yang sesuai dengan kondisi guru penggerak, lingkungan sekolah ataupun murid.

Findings

Hal yang mencerahkan bagi saya adalah bahwa ternyata kita sebagai pendidik perlu menyusun visi berdasarkan permasalahan yang saat ini terjadi, dan hal tersebut menjadi lebih mudah setelah saya mengetahui tentang BAGJA.

Future

Setelah mempelajari modul 1.3 tentang visi guru penggerak maka saya akan berusaha menerapkan dan mewujudkan visi yaitu “Terwujudnya Siswa yang Berakhlak Mulia, Relegius, Berfikir Kreatif Dan Kritis, Berkarakter, Kompetitif Untuk Mengekplorasi Pengetahuan, Kecakapan, Dengan Rasa Tanggung Jawab Serta Percaya Diri”. Prakarsa perubahan ini sudah saya rencanakan sesuai dengan alur BAGJA. Saya juga akan melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid (Student Centered Learning) dan selalu berusaha melakukan pembelajaran yang menyenangkan dengan selalu berinovasi untuk mengembangkan ide dalam pembelajaran.

Demikian refleksi dwi mingguan ketiga saya, atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

 

 

  JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF  BAGI MUR ID   Oleh:    Ratna Dewi Calon Guru Pe...